Thursday, August 23, 2012

Penjelasan Tentang Infeksi Parvo Virus

Virus Parvo
Virus Parvo
Parvo virus adalah Penyakit infeksi yang cukup sering terjadi pada anjing. Penyakit ini disebabkan oleh Canine Parvovirus type 2 (CPV 2). Virus ini banyak menyerang anjing muda, yaitu pada usia 6 -16 minggu, namun anjing tua juga dapat terjangkit walaupun jarang. Semua ras anjing dapat terserang virus ini terutama untuk ras Rottweiler, Dobermann, Golden Retriever dan Labrador Retriever.

Gejala Penyakit Parvo yang paling spesifik adalah muntah dan diare berdarah yang terjadi berulang-ulang. Gejala lainnya adalah lesu, tidak mau makan dan demam. Bila muntah dan diare berlangsung terus maka anjing akan mengalami dehidrasi dan kehilangan berat badan Tanpa adanya penanggulangan yang tepat maka anak anjing biasanya tidak dapat bertahan hidup.

Diagnosa Parvo Virus dapat dilakukan dengan melihat gejala klinis nya, atau yang lebih modern adalah dengan memakai kit diagnostik Parvo dengan sample dari kotoran/feses anjing.

Terapi infeksi Parvo virus meliputi terapi simtomatis dan suportif. Terapi suportif berupa pamberian infus diperlukan mengingat hewan kahilangan elektrolit tubuh akibat diare dan muntah. Penggantian cairan yang hilang dilakukan dengan memberikan infus Lactat Ringer dan 5 % Dextrose. Antibiotik yang dapat digunakan adalah antibiotik spektrum luas di antaranya Ampicillin dan Gentamicin. Antibiotik ini bertujuan untuk mencegah infeksi sekunder akibat kondisi hewan yang lemah. Anti muntah dan vitamin juga dapat diberikan.

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi Parvo Virus :
  • Membeli anjing yang telah divaksin terhadap Parvo
  • Induk anjing sebelum dipacak harus dilengkapi Vaksinasinya, agar anakan mendapat maternal immunity yang cukup dari air susu induknya.
  • Lingkungan tempat tinggal anjing harus selalu dijaga kebersihannya.
  • Nutrisi dan gizi untuk anak anjing harus diperhatikan untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.
  • Anakan anjing berusia di bawah 3 bulan sebaiknya tidak kontak dengan anjing lain yang belum jelas status kesehatannya.

Penjelasan Tentang Rabies

Penyakit Rabies atau Penyakit anjing gila adalah Penyakit hewan yang menular yang disebakan oleh virus dan dapat menyerang hewan berdarah panas dan manusia.


Pada hewan yang menderita Rabies, virus ditemukan dengan jumlah banyak pada air liurnya. Virus ini akan ditularkan ke hewan lain atau ke manusia terutama melalui luka gigitan . Oleh karena itu bangsa Karnivora (anjing,kucing, serigala) adalah hewan yang paling utama sebagai penyebar Rabies.

Penyakit Rabies merupakan Penyakit Zoonosa yang sangat berbahaya dan ditakuti karena bila telah menyerang manusia atau hewan akan selalu berakhir dengan kematian.

Mengingat akan bahaya dan keganasannya terhadap kesehatan dan ketentraman hidup masyarakat, maka usaha pencegahan dan pemberantasan Penyakit ini perlu dilaksanakan secara intensif. Untuk itu pemerintah menetapkan agar Indonesia bebas Rabies pada tahun 2005.

Hewan yang rentan dengan Rabies
Semua hewan berdarah panas rentan dengan Rabies. Penyakit Rabies secara alami terdapat pada bangsa anjing, kucing, kelelawar, dan karnivora liar.

Masa Inkubasi
Masa inkubasi adalah waktu antara penggigitan sampai timbulnya gejala Penyakit . Masa inkubasi Penyakit Rabies pada anjing dan kucing kurang lebih 2 minggu (10 hari- 14 hari). Pada manusia 2-3 minggu dan paling lama 1 tahun.

Tahapan Penyakit RabiesPerjalanan Penyakit Rabies pada anjing dan kucing dibagi dalam 3 fase (tahap).

1. Fase Prodormal : Hewan mencari tempat dingin dan menyendiri , tetapi dapat menjadi lebih agresif dan nervus, pupil mata meluas dan sikap tubuh kaku (tegang). Fase ini berlangsung selama 1-3 hari . Setelah fase Prodormal dilanjutkan fase Eksitasi atau bias langsung ke fase Paralisa.

2. Fase Eksitasi : Hewan menjadi ganas dan menyerang siapa saja yang ada di sekitarnya dan memakan barang yang aneh-aneh. Selanjutnya mata menjadi keruh dan selalu terbuka dan tubuh gemetaran , selanjutnya masuk ke fase Paralisa.

3. Fase Paralisa: Hewan mengalami kelumpuhan pada semua bagian tubuh dan berakhir dengan kematian.

Tanda-Tanda Penyakit Rabies Pada Hewan Dan Manusia
Pada anjing dan kucing, Penyakit Rabies dibedakan menjadi 2 bentuk , yaitu bentuk diam (Dumb Rabies) dan bentuk ganas (Furious Rabies).

Tanda tanda Rabies bentuk diam :

* Terjadi kelumpuhan pada seluruh bagian tubuh.

* Hewan tidak dapat mengunyah dan menelan makanan, rahang bawah tidak dapat dikatupkan dan air liur menetes berlebihan.

* Tidak ada keinginan menyerang atau mengigit. Hewan akan mati dalam beberapa jam.

Tanda tanda Rabies bentuk ganas:

* Hewan menjadi agresif dan tidak lagi mengenal pemiliknya.

* Menyerang orang, hewan, dan benda-benda yang bergerak.

* Bila berdiri sikapnya kaku, ekor dilipat diantara kedua paha belakangnya .

* Anak anjing menjadi lebih lincah dan suka bermain , tetapi akan menggigit bila dipegang dan akan menjadi ganas dalam beberapa jam.

Tanda-Tanda Rabies Pada Manusia :

* Rasa takut yang sangat pada air, dan peka terhadap cahaya, udara, dan suara.

* Airmata dan air liur keluar berlebihan .

* Pupil mata membesar.

* Bicara tidak karuan, selalu ingin bergerak dan nampak kesakitan.

* Selanjutnya ditandai dengan kejang-kejang lalu lumpuh dan akhirnya meninggal dunia.

Tindakan Terhadap Hewan Yang Menggigit

Anjing, kucing dank era yang menggigit manusia atau hewan lainnya harus dicurigai menderita Rabies. Terhadap hewan tersebut harus diambil tindakan sebagai berikut :

* Bila hewan tersebut adalah hewan peliharaan atau ada pemiliknya , maka hewan tersebut harus ditangkap dan diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi selama 14 hari. Bila hasil observasi negatif Rabies maka hewan tersebut harus mendapat Vaksinasi Rabies sebelum diserahkan kembali kepada pemiliknya.

* Bila hewan yang menggigit adalah hewan liar (tidak ada pemiliknya) maka hewan tersebut harus diusahakan ditangkap hidup dan diserahkan kepada Dinas Peternakan setempat untuk diobservasi dan setelah masa observasi selesai hewan tersebut dapat dimusnahkan atau dipelihara oleh orang yang berkenan , setelah terlebih dahulu diberi Vaksinasi Rabies.

* Bila hewan yang menggigit sulit ditangkap dan terpaksa harus dibunuh, maka kepala hewan tersebut harus diambil dan segera diserahkan ke Dinas Peternakan setempat untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Tindakan Terhadap Orang Yang Digigit (Korban)

1. Segera cuci luka gigitan dengan air bersih dan sabun atau detergen selama 5 -10 menit kemudian bilas dengan air yang mengalir , lalu keringkan dengan kain bersih atau kertas tissue.

2. Luka kemudian diberi obat luka yang tersedia (misalnya obat merah) lalu dibalut longgar dengan pembalut yang bersih.

3. Penderita atau korban secepatnya dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

Tindakan Terhadap Anjing , Kucing, atau Kera Yang Dipelihara

1. Menempatkan hewan peliharaan dalam kandang yang baik dan sesuai dan senantiasa memperhatikan kebersihan kandang dan sekitarnya.

2. Menjaga kesehatan hewan peliharaan dengan memberikan makanan yang baik , pemeliharaan yang baik dan melaksanakan Vaksinasi Rabies secara teratur setiap tahun ke Dinas Peternakan atau Dokter Hewan Praktek.

3. Memasang rantai pada leher anjing bila anjing tidak dikandangkan atau sedang diajak berjalan-jalan.

Himbuan Kepada Masyarakat
Bantulah Petugas Dinas Peternakan dalam menekan jumlah anjing / kucing liar atau yang tidak bertuan dilingkungan/tempat tinggal masing-masing.

Sumber artikel berasal dari :
Dinas Peternakan Pemerintah Kabupaten Tangerang
Alamat : Jl. Daan Mogot No.53 Tangerang
Telepon : (021)552-1386 . Faks : (021)552-4866

Info Tentang Vaksin Anjing

Vaksin
Vaksin / Imunisasi
Mengapa anjing harus divaksin?

Vaksinasi merupakan suatu tindakan untuk meningkatkan kekebalan hewan agar dapat bertahan terhadap serangan berbagai Penyakit strategis. Penyakit strategis pada anjing di antaranya : Parvovirus, Distemper, Penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh virus Parainfluenza dan Adenovirus tipe 2, serta Hepatitis yang disebabkan Adenovirus tipe 1.

Selain itu terdapat Penyakit zoonosis yang tidak hanya menginfeksi anjing, namun juga menularkan ke manusia, seperti Leptospira dan Rabies.

Teknologi HTLP

Pfizer Animal Health melakukan berbagai penelitian untuk mendapatkan Vaksin terbaik yang tidak hanya aman namun juga memberikan perlindungan yang efektif bagi anjing kesayangan anda. Rangkaian Vaksin Vanguard Plus memiliki keunggulan dalam komposisi virus Parvo, yaitu teknologi HTLP (high titer and low passage). Virus Parvo yang terdapat dalam Vaksin ini memiliki titer virus yang lebih tinggi dan pasase yang lebih rendah dibandingkan dengan Vaksin konvensional.

Mengapa HTLP diperlukan untuk Vaksin Parvovirus? Karena antibodi anjing terhadap Parvovirus sangat unik. Seiring dengan bertambahnya umur anak anjing, titer antibodi anak anjing yang berasal dari induk terhadap Parvovirus mengalami penurunan. Sering kali kita mendapatkan anjing yang telah divaksin Parvo, ketika terjadi outbreak Parvo, anjing tersebut masih dapat terinfeksi virus ini dengan menunjukkan gejala diare berdarah.

Hal ini disebabkan antibodi induk telah menetralisir Vaksin konvensional sehingga terjadi kegagalan penggertakan kekebalan tubuh. Di sisi lain, antibodi bawaan dari induk tidak cukup untuk memberikan perlindungan terhadap virus Parvo ganas yang berasal dari luar.

Dengan teknologi HTLP pada Vaksin Vanguard Plus, virus Parvo Vaksin yang tidak ternetralisir mampu untuk menggertak pembentukan sistim tanggap kebal yang dapat melindungi anjing anda dari serangan virus Parvo.

Vaksin pada anjing ada beberapa jenis, monovalent, bivalent, dan multivalent.

Vaksin Monovalent : Vaksin yang hanya mengandung 1 jenis virus Vaksin, seperti Vaksin Vanguard Plus CPV yang hanya mengandung Canine Parvovirus.

Bivalent: Vaksin yang mengandung 2 jenis virus Vaksin.

Multivalent: Vaksin yang mengandung beberapa jenis virus, seperti pada Vanguard Plus 5/L yang mengandung virus Parvo, Distemper, Hepatitis Adenovirus-2, Parainfluenza dan Leptospira.

Pemberian Vaksin tidak tergantung pada ras anjing. Pertimbangan pemberian Vaksinasi lebih dikaitkan terhadap umur anjing dan resiko paparan Penyakit di lingkungannya. Seperti pada Penyakit Parvo yang umumnya menyerang anak anjing, Vaksin ini harus diberikan sedini mungkin, yaitu pada umur 6 minggu.

Program Vaksinasi yang disarankan adalah: 
Umur
Jenis Vaksinasi
Nama Vaksinasi
6 minggu
Parvo / Distemper
Vanguard Plus CPV atau Vanguard Plus 5/L atau Vanguard Plus 5/CV-L
9 minggu
Parvo, Distemper, Parainfluenza, Hepatitis, Adenovirus tipe 2 dan Leptospirosis
Vanguard Plus 5/L atau Vanguard Plus 5/CV-L
12 minggu
Parvo, Distemper, Parainfluenza, Hepatitis, Adenovirus tipe 2 dan Leptospirosis.
Vanguard Plus 5/L atau Vanguard Plus 5/CV-L
4 bulan
Rabies
Defensor 3
1 tahun dan diulang tiap tahun
Parvo, Distemper, Parainfluenza, Hepatitis, Adenovirus tipe 2 dan Leptospirosis.+ Rabies.
Vanguard Plus 5/L atau Vanguard Plus 5/CV-LÂ dan Defensor 3

Mengapa harus dilakukan pengulangan pada Vaksinasi? Agar antibodi yang terbentuk mencapai titer yang protektif dan tahan lama.

Bagaimana jika anjing yang anda beli belum pernah mendapatkan Vaksinasi? Jika anjing tersebut berumur di atas 12 minggu, maka harus dilakukan 2 kali Vaksinasi dengan jeda 3-4 minggu untuk mendapatkan kekebalan yang lebih tinggi. Selanjutnya Vaksinasi diberikan pada umur 1 tahun dan dilakukan pengulangan setiap tahunnya.

Pastikan anjing dalam kondisi prima sebelum divaksin (tidak sakit maupun terdapat infestasi caplak/kutu/cacing). Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter hewan sebelum Vaksinasi untuk mendapatkan pemeriksaan yang lengkap supaya anjing tetap terjaga kesehatannya.

Segera hubungi dokter hewan anda untuk mendapatkan rangkaian Vaksinasi menggunakan Vanguard Plus (Vanguard Plus CPV dan Vanguard Plus 5/L ). Vaksin Vanguard Plus ini aman digunakan pada anak anjing anda sejak umur 6 minggu.